Pedoman Publikasi Ilmiah

Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi sudah menetapkan luaran  dari semua kegiatan penelitian dasar dan peningkatan kapasitas untuk sekurang-kurangnya menghasilkan publikasi. Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Kemenristekdikti memunyai kewajiban untuk memberikan tuntunan, pendampingan, serta insentif kepada dosen dan peneliti sehingga dapat meningkatkan jumlah dan mutu publikasi hasil penelitian.

Peningkatan publikasi hasil penelitian bukan hanya dari sisi jumlah melainkan  mutu jurnal yang mempublikasikan, khususnya di jurnal ilmiah internasional bereputasi. Upaya dari hulu ke hilir dalam siklus publikasi perlu diupayakan dari mulai melanggankan akses ke pangkalan data e-journal guna memperoleh gambaran perkembangan penelitian yang sudah dilaksanakan sebelumnya sehingga tidak terjadi duplikasi kegiatan penelitian. Tidak kalah penting ialah disediakannya pelatihan dan pendampingan publikasi di jurnal ilmiah dan penerbitan buku, bantuan penyelenggaraan konferensi, bantuan biaya seminar luar negeri, serta insentif publikasi llmiah bagi penulis yang naskahnya berhasil diterbitkan di jurnal bereputasi internasional.

Sebagai wadah publikasi, jumlah jurnal yang terakreditasi nasional dan  bereputasi internasional menjadi sangat penting ditingkatkan dengan cara menyelenggarakan pelatihan manajemen penerbitan jurnal elektronik, pendampingan akreditasi nasional dan bereputasi internasional, hibah tata kelola jurnal elektronik, serta insentif untuk jurnal terakreditasi nasional dan terindeks di pengindeks bereputasi.

Oleh karena itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tahun 2017 ini menerbitkan “Buku Pedoman Publikasi Ilmiah” Buku pedoman ini merupakan salah satu upaya agar dosen dan peneliti dapat menghasilkan publikasi sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan dan dapat meningkatkan kuantitas dan mutu publikasi.

Bagi Dosen IKIP PGRI Jember yang ingin mengunduh Buku Pedoman Publikasi Ilmiah melalui link berikut:

Pengumpulan Hardcopy Proposal Hibah 2018

Sehubungan dengan berakhirnya batas waktu  upload pengajuan proposal hibah penelitian untuk tahun anggran 2018. Sampai saat ini tercatat terdapat 65 proposal yang diajukan oleh dosen IKIP PGRI Jember, yang terdiri dari 34 proposal penelitian dan 31 proposal pengabdian. Oleh karena itu, dimohon dosen IKIP PGRI Jember yang telah selesai upload final untuk mengumpulkan hardcopy proposal ke LPPM IKIP PGRI Jember pada jam kerja guna sebagai arsip LPPM IKIP PGRI Jember.

 

*Warna cover disesuaikan pada panduan X

 

Terima Kasih.

LPPM IKIP PGRI Jember

Indeksasi, Haruskah Scopus?

Teori hegemoni yang digagas oleh Antonio Gramsci nyatanya terjadi juga pada dunia open journal atau jurnal elektronik. Di Indonesia misalnya, Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan seorang profesor dan juga dosen dalam tiga tahun setidaknya menghasilkan satu karya ilmiah di jurnal internasional serta menulis satu buku. Dirjen Dikti menggunakan  Scopus sebagai acuan jurnal internasional bereputasi. Ketentuan tersebut menuai cukup banyak pro dan kontra mengingat Scopus memiliki standart yang cukup ketat dalam melakukan indeksasi.

Salah satu kendala dalam pengajuan indeksing Scopus oleh para akademisi dan pengelola jurnal di Indonesia adalah masalah bahasa. Mereka dituntut untuk menerbitkan jurnalnya dalam bahasa Inggris. Mengenai hal ini, Tanzil memberikan penjelasan bahwa jika dicermati dalam persyaratan pengajuan indeksing Scopus, maka hanya abstrak saja yang diwajibkan penulisannya dalam bahasa Inggris. Permasalahan pada jurnal dari Indonesia ada pada citedness, dimana sumber daya yang dimiliki Scopus seperti geographical distribution editors yang mampu membaca jurnal dalam bahasa Indonesia masih terbatas. Berbeda dengan Malaysia, mereka memiliki  geographical distribution editors yang mampu menguasai bahasa Malaysia sehingga jurnal yang terindeks di Scopus adaah jurnal berbahasa Melayu.

Mematahkan hegemoni Scopus bisa jadi adalah harapan banyak akademisi dan para pengelola jurnal di Indonesia. Selama  pemerintah masih berpikir bahwa definisi jurnal internasional bereputasi harus terindeks oleh basis data Scopus, tampaknya masih cukup jauh perjuangan untuk melengserkan hegemoni Scopus ini. Meskipun demikian, wacana penyetaraan Jurnal Internasional Bereputasi membawa sedikit angin segar dalam indeksing jurnal internasional bereputasi. Syarat dari penyetaraan tersebut antara lain Jurnal Nasional Terakreditasi A, berbahasa PBB, dan terindeks DOAJ ber-green tick dan ber DOAJ SEAL.

Dikutip dari Relawan Jurnal Indonesia

www.jurnalindonesia.org